Aitakatta

Haduh, judulnya agak berat……”aku merindukanmu
Ahahaha~

Yah, aitakatta berarti aku rindu. Berasal dari kata kerja bentuk kamus AU=BERTEMU, kemudian mendapat tambahan –TAI yang berfungsi menyatakan keinginan, menjadi AITAI (aku ingin bertemu). Perhatikan bahwa U dalam AU berubah menjadi I ketika mendapat tambahan TAI.
Bila dijadikan bentuk lampau, huruf i terakhir dalam AITAI berubah menjadi KATTA sehingga AITAI menjadi AITAKATTA.

Kita bandingkan dengan satu kata lagi yang juga bisa digunakan untuk mengungkapkan perasaan rindu, yaitu SABISHII. Meskipun sama-sama berarti rindu, terdapat perbedaan konteks pemakaian kedua kata tersebut. Yang pertama AITAKATTA. Seperti makna bentuk kamusnya, rindu di sini dimaksudkan untuk mengekspresikan keinginan yang mendalam untuk bertemu dengan seseorang karena sudah lama berpisah. Penekanannya hanya pada tujuan untuk saling bertemu. Berbeda dengan SABISHII. Lebih kompleks karena melibatkan suasana/momen-momen tertentu yang sangat berkesan hingga susah dilupakan dan cenderung membuat seseorang untuk mengulangi mengalaminya kembali. Misalnya momen-momen bahagia bersama teman-teman kuliah yang akhirnya harus berhenti karena masing-masing harus melanjutkan kehidupannya masing-masing. Kita bisa mengucapkan:
SABISHIIKUNARU YO aku akan merindukan kalian (dan momen2 ini)
SABISHII….duh, kangen…(sepi….)

Nah, sudahkah bisa menangkap perbedaan atmosfer AITAKATTA dan SABISHII..??



DSC00004.jpg
(gambarnya nggak nyambung ya....fufufufu ^,^' )

Moushiwake arimasen

Ada berbagai tingkatan mengucapkan maaf, setahu saya yang paling sopan dan benar-benar mengungkapkan penyesalan adalah "moushiwake arimasen" atau "moushiwake gozaimasen" atau mouiiwake gozaimasen.
Bila diuraikan, terdiri dari kata-kata berikut:
Mou : sudah
Iiwake : alasan
Arimasen/gozaimasen : tidak ada.
Jadi secara keseluruhan berarti "(saya) sudah tidak mempunyai alasan lagi". Menunjukkan bahwa si bersalah benar-benar mengakui perbuatannya dan dia tidak memiliki alasan untuk membela diri (meskipun mungkin sebenarnya ada, tapi untuk alasan tertentu tidak bisa dikatakan). Biasanya digunakan untuk meminta maaf kepada orang yang sangat dihormati, atau bawahan kepada atasan, atau pelayan rumah makan kepada tamu.

Setingkat di bawah itu adalah gomen nasai atau gomen saja. Akhiran nasai membuatnya menjadi lebih sopan. Ungkapan ini lebih luwes ketimbang moushiwake gozaimasen.

Selanjutnya ada warukatta ne, warukatta na, warui na, warui ne, sumanai atau suman.  
¤ warukatta
Berasal dari kata warui yang artinya buruk. Agak bingung sebenarnya kenapa ada ungkapan maaf seperti itu, tapi mungkin bisa disamakan dengan my bad dalam bahasa inggris.
Akhiran na atau ne berfungsi memperhalus kalimat. Na bernuansa maskulin sedangkan ne adalah feminin. 

¤ sumanai
Meskipun terdengar agak kasar, bukan berarti orang yang mengucapkannya kehilangan rasa bersalahnya. Hanya saja begitulah cara cowok mengucapkan maaf dengan cara yang maskulin.

Lalu ada satu lagi ungkapan yang berarti maaf juga, tapi dalam konteks lain yaitu sumimasen [permisi]. Misalnya dipergunakan jika hendak menanyakan jalan kepada orang asing.