Moushiwake arimasen
Ada berbagai tingkatan mengucapkan maaf, setahu saya yang paling sopan dan benar-benar mengungkapkan penyesalan adalah "moushiwake arimasen" atau "moushiwake gozaimasen" atau mouiiwake gozaimasen.
Bila diuraikan, terdiri dari kata-kata berikut:
Mou : sudah
Iiwake : alasan
Arimasen/gozaimasen : tidak ada.
Jadi secara keseluruhan berarti "(saya) sudah tidak mempunyai alasan lagi". Menunjukkan bahwa si bersalah benar-benar mengakui perbuatannya dan dia tidak memiliki alasan untuk membela diri (meskipun mungkin sebenarnya ada, tapi untuk alasan tertentu tidak bisa dikatakan). Biasanya digunakan untuk meminta maaf kepada orang yang sangat dihormati, atau bawahan kepada atasan, atau pelayan rumah makan kepada tamu.
Setingkat di bawah itu adalah gomen nasai atau gomen saja. Akhiran nasai membuatnya menjadi lebih sopan. Ungkapan ini lebih luwes ketimbang moushiwake gozaimasen.
Selanjutnya ada warukatta ne, warukatta na, warui na, warui ne, sumanai atau suman.
¤ warukatta
Berasal dari kata warui yang artinya buruk. Agak bingung sebenarnya kenapa ada ungkapan maaf seperti itu, tapi mungkin bisa disamakan dengan my bad dalam bahasa inggris.
Akhiran na atau ne berfungsi memperhalus kalimat. Na bernuansa maskulin sedangkan ne adalah feminin.
¤ sumanai
Meskipun terdengar agak kasar, bukan berarti orang yang mengucapkannya kehilangan rasa bersalahnya. Hanya saja begitulah cara cowok mengucapkan maaf dengan cara yang maskulin.
Lalu ada satu lagi ungkapan yang berarti maaf juga, tapi dalam konteks lain yaitu sumimasen [permisi]. Misalnya dipergunakan jika hendak menanyakan jalan kepada orang asing.


